Minggu, 21 Februari 2016

Upik Abu Sok Cinderella



Upik Abu Story 














Hari ini pukul 12 malam
Lonceng berdentum keras menyadarkanku
Ternyata sejenak aku telah lupa
Bahwa aku masih seorang upik abu
Upik abu yang selalu sok Cinderella

Seharusnya aku lebih awal lagi menyadari
Sebelah sepatu kaca pun aku tidak memiliki
Apalagi berdiri anggun dengan dua sepatu
Duhai sendal jepit dari karet pun masih terasa lebih dari cukup

Wahai engkau lonceng,
Sering-seringlah berbunyi.
Sadarkanlah si upik abu sok Cinderella ini.
Agar hanya tetap berjalan dengan sendal jepit karetnya
Menapaki jalannya sendiri..

Wahai engkau lonceng,
Sering-seringlah berbunyi
Sadarkanlah si upik abu sok Cinderella ini
Agar tidak berusaha menginjak lantai marmer mewah milik si Tuan Pangeran.




Minggu, 24 Mei 2015

Selamat malam, kawan usang..

Apa kau kemarin mencari kartu ucapan dalam bungkus energ*n dariku?
Ah, maaf kawan. Kau seperti tak tau saja kebiasaan kawan usangmu ini.
Sedari dulu selalu tepat menyiapkan kado namun terlambat memberikan karena bingung memberi ucapan.

Apa lagi yang harus kuucapkan padamu?
Ketika doa-doa sudah terlontar ke langit.

Baiklah, supaya terlihat lebih afdol akan tetap kutuliskan untuk kau ya?
Dari kawan usangmu ini.

Bagaimana kalau kita mulai dari semangat dulu?
Masih seberapa semangatmu saat ini untuk menjalani profesi? 90%? 50%? atau malah sudah habis terkikis oleh stase yang saat ini kau jalani?
Ah tinggal sedikit lagi. Selalu ingatlah tinggal sedikit lagi.
Kau selalu bisa menjadikanku tempat untuk kembali, dengan segala keluh kesahmu.
Meski aku tak pernah menjadi tempat terbaik untuk kembali.
Aku tahu aku buruk dalam hal itu.
Tapi setidaknya sesekali kau bisa mengandalkanku.
Kalau aku tidak bisa diandalkan maka selalulah ingat 2 kata mustajab yang akan kawan usangmu.
Yang pertama "faa inna ma'al usri yusro." Kau pasti tau kan apa artinya? Ah kau kan jauh lebih pintar dariku.
Maka ingatah kata itu dan berharaplah semua hal yang memuakkan ini akan segera berlalu.
Kau tak sabar menunggu kata kedua? Baik lah akan ku beri tahu.
Kata kedua kau juga pasti pernah mendengar "Laa tahzan innalloha ma'ana."

Jika aku kau tidak bisa mengandalkanku sebagai kawan usangmu sebagai tempat kembali untuk berkeluh kesah. Maka ingatlah kedua kata-kata pamungkas itu. Bahwa segalanya akan segera berlalu. Akan segera berganti dengan kebaikan. Kebaikab yang mendewasakanmu.

Maka usia hanyalah sebuah hitungan angka ketika kau menjadi lebih dewasa. Maka yang terpenting adalah menjadikan waktumu tak terlewatkan untuk hal-hal tidak penting.

Dengan begitu, aku berharap, waktu dalam usiamu akan bermanfaat dan berkah selalu.

Dari kawan usangmu
Almaidah Swan

Kamis, 29 Januari 2015

Memungut Tujuan Hidup dalam Tumpukan Sampah

Pesan sebelum membaca : *Abaikan kata mantan*

“Today I don’t feel like doing anything. I just wanna lie in my bed.”

Ada yang tau sepintas soal lagu ini? Kalau tau berarti SELAMAT! Kamu gahoel banget, bro! Bahahaha. Kalo ngga tau mending tingkatkan lagi deh taraf kegaulanmu terhadap lagu international.

Yup! Itu tadi lagunya Bruno Mars. Artinya pokoknya “aku cuma mau males-malesan aja hari ini”. Stay di zona nyaman atau bahasa gahoelnya comfort zone. Berada di zona nyaman emang enak. Enak banget malah. Santai-santai, nunda pekerjaan, banyak tiduran, nonton TV, maen ngalor-ngidul.

Tugas? Nanti dulu deh. Skripsi? Skip dulu aja. Laporan? Bentaran dulu lah yaa.. Ngale-ale dulu. Tapi kadang-kadang ngale-alenya malah kebablasan. Terlalu menikmati suasana. Trus kalau udah terlanjur terkungkung dalam comfort zone gimana dong? Bisa bahaya nih. Mengurangi produktivitas.

Mungkin kita bisa pikirkan mengenai tipsnya. Coba deh diingat-ingat lagi tujuan dalam hidup kamu. Sebenernya apa sih yang kamu pengenin. Sori, kita ngga ngomongin tujuan hidup nikah ya disini.

Oke. Sekarang anggap kamu udah inget sama tujuan hidupmu yang telah dengan teganya kamu selipkan ditumpukan sampah di sudut memori kamu. Halah! Hahahaha. Jangan cuma mantan aja yang diinget keles.

Udah inget? Trus sekarang coba deh diinget-inget siapa aja sih yang ngedukung tujuan hidup kamu? Orang tua? Bapak? Ibuk? Papa? Mama? Kakak? Adik? Semuaaa deh! Atau mungkin Pacar juga? Tjieeeee.. Gue sih jomblo. Hiks. Hahahaha.

Mereka yang bener-bener mendukungmu dari awal, nggak cuma sekedar basa-basi bilang “semangaaat yaaa!” Tapi juga diam-diam mendoakanmu dalam ibadah mereka. Bayangin dong, mereka yang dengan seriusnya ngedukung kamu tapi kamu malah asik-asik ngale-ale kayak lagunya Bruno Mars tadi? Kasian kan. Kamu nggak tau seberapa banyak butiran keringat segedhe jagung yang keluar dari kulit basah orang tuamu? Seberapa banyak busa yang mereka keluarkan untuk menasehati dan menyemangatimu. Seberapa banyak uap yang dikeluarkan saat mendoakanmu? Dihitung coba deh IWLnya (Insensible Water Loss). Pikirkanlah.

Nah! Inget tujuan hidup, udah. Inget yang ngedukung, juga udah. Inget mantan, SKIP! Sekarang biar nggak cuma sebetas diinget-inget doang, yuk pelan-pelan direalisasikan dalam wujud nyata. Perlahan-lahan semua yang berkaitan dengan tujuan hidup kita diletakkan di prioritas utama. Yang lainnya entar dulu deh. Misalnya pengen jadi perawat gagah berani yang tak takut mati (ahahahaha-apa banget ini mah). Berarti ya prioritas utamanya, belajar praktek skills dengan baik. Kerjain laporan-laporannya.

Bohong bin Gombal banget emang kalo ngga ngerasa jenuh. Apalagi pas banyak-banyaknya tugas yang musti dilakuin. Dikejar deadline pula! Aduh, pucing kepala nih.

Tapi kejenuhan pun ada obatnya keles! Kayak hati aku yang jenuh terus ada kamu sebagai obatnya gitu deh. Njiyeee. Hahaha.

Kalau kamu mulai merasa jenuh, main boleh lhooo. Luangkan waktu sejenak buat me-time. Dengerin music, nonton TV, baca buku hiburan asal jangan majalah porno hahaha. Atau mungkin Q-time sama temen. Haha-hihi bareng. Tapi jangan kelewatan juga keles. Ntar mbalik ke kungkungan comfort zone lagi haha. Asal nggak balik ke mantan aja sih. Loh? Kok jadi mantan lagi? Haha.

Sama satu hal lagi yang jitu. Kalau merasa bosan dan penat meng-adu-lah pada Tuhan. Kalau terasa perjalanan melelahkan meng-aduh-lah pada Tuhan. Dia pendengar yang paling setia loh. 24 jam kali 7 hari. Available. Juga doakanlah sesekali orang-orang yang mendukung selalu tujuan hidupmu. Doakanlah mereka sabar menanti kamu meraih mimpi. Sedikit lagi. Katakanlah pada dirimu sendiri sampai menghela napas dalam, "Sedikit lagi, sedikit lagi aku sampai" J

Jadi lagunya udah ganti dong yaaa sekarang. Jadi gini nih “This is gonna be the best day of my lifeee!” Tuh kan! Nggak ngerti lagi sama lagunya! Ngga gahoel deh hahaha.



Senin, 05 Januari 2015

Harus seberapa banyak Pempers yang aku ganti?

Harus seberapa banyak Pempers yang aku ganti?
Supaya cukup aku saja yang bergulat dengan pempers-pempers pasien, asal keluargaku tetap sehat.

Harus seberapa banyak pasien yang aku mandikan dan aku keramasi juga kupotong rambutnya?
Agar cukup aku mengurusi mereka, asal aku jangan sampai mengurusi keluargaku sendiri. 

Harus seberapa sakit punggungku? Demi menunduk merawat luka para pasien.
Asal Tuhan selalu bersedia berkenan atas kesehatan orang tuaku. Asal Tuhan menurunkan lapisan baja pelindung untuk keluargaku.

Harus seberapa banyak keluhan yang harus kudengar dan kuatasi?Agar keluhan yang sama tidak kudengar dari keluargaku sendiri. 

Aku memang bukan wonder woman, buka superhero, apalagi malaikat yang turun dari langit.
Aku hanya manusia biasa. Yang tidak bisa membayangkan, bagaimana rasanya terbaring tidak berdaya diatas kasur di gedung putih bernama Rumah Sakit. Sibuk menahan rasa sakit. Mengorbankan banyak waktu dan biaya untuk berobat. Menempuh ribuan kilometer demi harapan yang bernama "Kesembuhan". Berkeluh kesah tiada henti karena nyeri, mual, muntah. Segores pemikiran saja pun tidak sanggup terlintas dalam bayanganku.

Aku banyak berkeluh kesah ketika lelah, punya batas dalam menahan emosi, sangat kurang dalam memahami, pun juga tidak mahir dalam kemampuan.
Aku hanya seorang perawat.

Tapi sekali lagi, Berapa banyak pempers yang harus aku ganti?Agar cukup menjadi pengganti. Agar senyum selalu terukir indah di bibir sederhana kedua orang tuaku.

-Catatan Hati Calon Perawat-






Jumat, 03 Oktober 2014

Para Super Hero



Saya sudah selama hampir dua minggu ini menjalani profesi. Apa itu profesi? Ya biar lebih gampang dipahami sebut saja “koas perawat”. 

Saya koas di rumah sakit yang satu-satunya lolos akreditasi international JCI (Join Commite International). Alhasil hampir semua pasien yang masuk ke rumah sakit ini penyakitnya kompleks sekali. Begitu juga dengan bangsal dimana tempat saya praktek yaitu di bangsal syaraf.

Hampir semua pasien mengalami kelemahan dan kelumpuhan. Bahkan tak jarang pasien mengalami penurunan kesadaran atau koma.

Awal saya masuk saya merasa biasa saja. Mengamati setiap keadaan pasien. Mempelajari apa yang seharusnya dipelajari oleh seorang praktikan.

Ditengah-tengah hiruk pikuk semua itu, saya tidak jarang mengamati para keluarga pasien. Para suami yang gigih merawat istri mereka. Menunggui dengan sabar. Menggantikan popok, mengepel badannya, menyuapi dengan penuh perhatian. Mendengarkan setiap keluh kesakitan istrinya dan berusaha memegang tangannya.

Saat saya sedang memberikan obat terkadang saya mengamati wajah-wajah lelah mereka yang menunggui istrinya bukan hanya 1 atau 2 hari saja tetapi hampir 1 bulan atau kadang malah lebih. Terkadang mereka berbaring dilantai. Mencuri-curi waktu untuk tidur. Apalagi jika terkadang mereka berasal dari luar kota dan meninggalkan pekerjaan mereka.

Pernah saya ketika sedang mengikuti perawat untuk memasang pasien yang akan diinfus, suami pasien membangunkan pasien. Memberitahukan bahwa sudah waktunya sholat. Dia bangunkan istrinya yang mengalami penurunan kesadaran itu dengan menepuk-nepuk pelan lengannya. “Bu, bangun. Sudah waktunya isya.” Istrinya yang terpasang banyak peralatan kesehatan itu masih tidak terbangun. Dia tetap berusaha untuk memberitahukan pada istrinya bahwa sudah tiba waktu untuk isya.

Sungguh saat itu rasanya saya ingin menangis ditempat. Tapi mana boleh seperti itu. Perawat (ya meskipun baru calon) hanya boleh sebatas empati. Tidak boleh bersimpati.
Pagi ini juga salah satu keluarga pasien ada yang bilang seperti ini ke saya-saat saya sedang melepas infus agar bisa dipasang yang baru oleh perawat- “Mbak, kenapa nggak tangan saya aja yang ditusuk? Kasian ditusuk-tusuk terus.”

Saya seperti melihat banyak sekali super hero disini. Bukan cuma sekedar superhero disinetron-sinetron yang sekarang lagi ngetren di tipi. Tetapi mereka para suami yang sangat setia merawat istri mereka dengan wajah-wajah lelah mereka. 

Semoga kita semua dan anggota keluarga kita selalu diberikan kesehatan dan keberkahan. Biar saja kalo kami memang harus merawat dan membantu banyak orang yang sakit. Asalkan bukan keluarga saya sendiri yang sakit.

Sabtu, 13 September 2014

Supaya kamu berhenti bertanya "Kapan?"

Awalnya sih dengerin pertanyaan “Kapan?” ini nggak begitu ngeganggu kehidupan gue. Sampai akhirnya negeri api menyerang. Loh?! Fokus! Fokus!

Biasanya orang sering banget kepo nanya-nanya “Kapan lulus?”, “Kapan wisuda?”, “Kapan nikah?”, “Kapan punya anak?”. Sekali dua kali sih nggak papa ya kalo mau tanya kayak begituan. Tapi lama-lama ngeselin juga. Lo nanya apa mau ngajak berantem sih?!

Gue mulai ngerasa annoying dengan pertanyaan ini adalah ketika gue mulai beranjak dewasa (halah). Saat-saat tahun terakhir gue kuliah dan mulai kerja ekstra buat nyelesain skripsi, di masa-masa ini nih banyak banget temen-temen yang tanya “Kapan ujian hasil?”, “Kapan pendadaran?”, “Kapan sidang?”. Bikin gue pengen nyanyi dangdut “Pak hakim dan pak jaksa.. Kapan saya kan disidang?!”

Kepo banget deh! Saat itu pikir gue pengen banget jawab gini “Nanya mulu, bantuin juga kagak lu!”. Kenapa coba daripada nanya “Kapan pendadaran?”, mbok iyao nawarin “Apa yang bisa kubantuin?”. Deuh manis banget orang kayak gini mah.

Sampe PP di facebook gue, gue ganti pake tulisan “Ojo takon kapan aku ujian hasil!” yang artinya dalam bahasa indonesia “Jangan tanya kapan aku ujian hasil!”

Setelah gue berhasil nempuh sidang pendadaran, banyak lagi orang pada nanya “Kapan wisuda?”. Kalo yang satu ini mah masih agak bisa ditoleransi pertanyaannya yah. Setelah wisuda ini, gue masih nempuh koas perawat nih. Masih juga banyak yang tanya “Lho bukannya udah wisuda?”. Masih harus narik napas panjang gue harus ngejelasin perlahan-lahan kalau gue masih harus nempuh pendidikan ners keperawatan selama 15 bulan lagi.

Berganti lagi dengan pertanyaan lain. Ini nih yang kadang paling bikin beteg. “Kapan nikah?”. Yaeah brai, gue masih kinyis-kinyis gini. Bentar dulu. Dan parahnya kadang nggak cuma satu orang dan cuma sekali nanyanya. “Kapan nikah?”, aduh emang situ mau nyumbang berapa sih? (Ups). “Kapan nikah?” emang situ mau nyariin jodoh?

Bagi si penanya mungkin emang terasa biasa aja. “Ya gue kan cuma nanya doang!”. Elo emang nanyanya cuma sekali dua kali. Tapi banyangin deh kalo elo jadi orang di posisi yang selalu ditanyain. Bukan cuma elo yang tanya sama dia. Orang lain juga. Dan harus berkali-kali juga dia ngejelasin, ngejawab, mencari alasan untuk menutupi rasa malu. Sampe kezel tau.

Jadi tanamkanlah rasa kasihan pada orang-orang semacam ini. Termasuk gue. Bahahaha. Nanya boleh, tapi jangan rese. Kalo bisa kasih solusi. Dan jangan tersinggun setelah baca ini.

Jadi, wahai pembaca, “Kapan kamu nikah?” :D Iyaaa.. Kamu!

Jumat, 12 September 2014

Upik Abu Jalan-Jalan Part. 1


Sebenernya nggak tau mau nulis apa. Tapi tiba-tiba aja pengen banget nulis.

Kemarin kebetulan gue kosong. Kosong agenda, kosong dompet, kosong status, kosong hati. Deuh, komplit amat dah udah kayak gado-gado. Gue cuma mau bilang intinya gue lagi nggak ada kerjaan. Dari malemnya sih rencana emang pengen main. Nyari-nyari temen tapi nggak ada yang mau nemenin. Akhirnya untuk membunuh waktu dan perasaan (ceileh) gue putuskan buat tetep jadi jalan-jalan meski sendirian.

Dengan kaos dan jilbab berwarna pink ditambah lagi dengan rok biru yang berkibar-kibar kemana-mana itu gue siap untuk menebar pesona di daratan Malioboro.

Akhirnya dengan menaiki Bluebee (nama motor gue) gue mengarungi jalanan yang menggambarkan gradasi dari Tempel yang ada di desa ke Jogja kota sambil dengerin lagu dan nyanyi kenceng banget di jalan. Waktu itu pikir gue, bodo amat diliatin orang.

Sesampainya di malioboro gue parkir depan McD. Disambut oleh bapak parkir yang baik hatinya lalu ngasih gue karcis parkir. Tulisannya sih gue harus bayar 1000 rupiah, tapi pas gue pulang gue ngasih duit dua rebu cuma dibalikin 500 perak.

Oke. Setelah itu gue tinggalin si Bluebee untuk sementara ditangan pak parkir. Setelah itu, dengan kaki dibalut sepatu crocs mary jane gue berjalan menyebrangi jalan siap untuk mulai berpetualang. Dengan pedenya gue berjalan sambil ngibas-ngibasin rok biruku selayaknya princess. Iya princess cinderella. Hahaha. Itu kan icon gue.

Apa? Kek orang ilang? Sorry nih yee.. Gue mah tetep stay cool. Langkah demi langkah sambil ngamatin kiri-kanan sambil terus online sama anak-anak cabs. Pura-pura ngeliatin barang dagangan yang dijual di kanan kiri emperan Malioboro.

Awalnya gue ngehampiri penjual cincin. Nyoba-nyobain sambil ngayal andai ada yang beliin gue cincin kan ya haha. Ternyata ukuran cincin gue 16 brai. Setelah puas nyobain  gue pergi dengan pasang muka “pura-pura nggak ada yang cocok” padahal emang niat dari awal nggak mau beli, bahahaha.

Setelah jalan beberapa ratus meter kok rasa-rasanya tenggorokan gue kering. Haus gitu. Yang namanya rasa kan ya, nggak boleh dicuekin. Harus segera ditindak lanjutin. Akhirnya gue beli teh poci rasa mangga harga 4 rebu.

Masih dengan gaya stay cool gue jalan sambil nyeruputin es teh. Ngeliat kanan kiri dagangan. Masuk ke mall. Nyobain sepatu trus lagi-lagi dengan tampang “pura-pura nggak ada yang cocok” gue keluar dari satu mall ke mall lain, satu kios ke kios lain.

Sampai akhirnya gue beli gelang dan berhasil nawar. Hahaha. Kemampuan nawar gue dari dulu emang keren dah. Meski pun yah, kadang gagal juga sih.

Masih mencoba untuk membunuh waktu dan perasaan gue jalan terus sampai akhirnya nyampe di pasar beringharjo. Tiba-tiba disitu kepengin banget makan soto gue. Tapi nggak jadi.

Tadinya tujuan utama malah sebenarnya mau beli kain buat bikin jilbab, tapi karena sementara masih survey harga dulu, belum bawa hasil deh. Tapi lumayan lah yaaaa. Bisa ngeliat bule. Mata yang tadinya kering jadi agak basah dikit. Kena vitamin.

Setelah jalan kira-kira dua jam tiba-tiba gue ngerasa perih. Sakit brai. Sakitnya tuh disini..
Apa? Hati? Bukaan! Bukan hati gue yang sakit. Itu kaki gue yang sakit. Ujunganya perih gara-gara gesekan sama sepatu. Sampe memerah gitu. Akhirnya mau nggak mau gue memutuskan untuk pulang. Rasanya puas bisa jalan-jalan ke malioboro sendirian for the first time. Inget yaaa, gue jalan dengan cool. Bukan kayak orang ilang!

Oke. Sampai sini dulu. Biar kaki memerahku sembuh dulu dan nantikan jalan-jalan upik abu selanjutnya :D






tt>
This share facebook