Jumat, 12 September 2014

Upik Abu Jalan-Jalan Part. 1


Sebenernya nggak tau mau nulis apa. Tapi tiba-tiba aja pengen banget nulis.

Kemarin kebetulan gue kosong. Kosong agenda, kosong dompet, kosong status, kosong hati. Deuh, komplit amat dah udah kayak gado-gado. Gue cuma mau bilang intinya gue lagi nggak ada kerjaan. Dari malemnya sih rencana emang pengen main. Nyari-nyari temen tapi nggak ada yang mau nemenin. Akhirnya untuk membunuh waktu dan perasaan (ceileh) gue putuskan buat tetep jadi jalan-jalan meski sendirian.

Dengan kaos dan jilbab berwarna pink ditambah lagi dengan rok biru yang berkibar-kibar kemana-mana itu gue siap untuk menebar pesona di daratan Malioboro.

Akhirnya dengan menaiki Bluebee (nama motor gue) gue mengarungi jalanan yang menggambarkan gradasi dari Tempel yang ada di desa ke Jogja kota sambil dengerin lagu dan nyanyi kenceng banget di jalan. Waktu itu pikir gue, bodo amat diliatin orang.

Sesampainya di malioboro gue parkir depan McD. Disambut oleh bapak parkir yang baik hatinya lalu ngasih gue karcis parkir. Tulisannya sih gue harus bayar 1000 rupiah, tapi pas gue pulang gue ngasih duit dua rebu cuma dibalikin 500 perak.

Oke. Setelah itu gue tinggalin si Bluebee untuk sementara ditangan pak parkir. Setelah itu, dengan kaki dibalut sepatu crocs mary jane gue berjalan menyebrangi jalan siap untuk mulai berpetualang. Dengan pedenya gue berjalan sambil ngibas-ngibasin rok biruku selayaknya princess. Iya princess cinderella. Hahaha. Itu kan icon gue.

Apa? Kek orang ilang? Sorry nih yee.. Gue mah tetep stay cool. Langkah demi langkah sambil ngamatin kiri-kanan sambil terus online sama anak-anak cabs. Pura-pura ngeliatin barang dagangan yang dijual di kanan kiri emperan Malioboro.

Awalnya gue ngehampiri penjual cincin. Nyoba-nyobain sambil ngayal andai ada yang beliin gue cincin kan ya haha. Ternyata ukuran cincin gue 16 brai. Setelah puas nyobain  gue pergi dengan pasang muka “pura-pura nggak ada yang cocok” padahal emang niat dari awal nggak mau beli, bahahaha.

Setelah jalan beberapa ratus meter kok rasa-rasanya tenggorokan gue kering. Haus gitu. Yang namanya rasa kan ya, nggak boleh dicuekin. Harus segera ditindak lanjutin. Akhirnya gue beli teh poci rasa mangga harga 4 rebu.

Masih dengan gaya stay cool gue jalan sambil nyeruputin es teh. Ngeliat kanan kiri dagangan. Masuk ke mall. Nyobain sepatu trus lagi-lagi dengan tampang “pura-pura nggak ada yang cocok” gue keluar dari satu mall ke mall lain, satu kios ke kios lain.

Sampai akhirnya gue beli gelang dan berhasil nawar. Hahaha. Kemampuan nawar gue dari dulu emang keren dah. Meski pun yah, kadang gagal juga sih.

Masih mencoba untuk membunuh waktu dan perasaan gue jalan terus sampai akhirnya nyampe di pasar beringharjo. Tiba-tiba disitu kepengin banget makan soto gue. Tapi nggak jadi.

Tadinya tujuan utama malah sebenarnya mau beli kain buat bikin jilbab, tapi karena sementara masih survey harga dulu, belum bawa hasil deh. Tapi lumayan lah yaaaa. Bisa ngeliat bule. Mata yang tadinya kering jadi agak basah dikit. Kena vitamin.

Setelah jalan kira-kira dua jam tiba-tiba gue ngerasa perih. Sakit brai. Sakitnya tuh disini..
Apa? Hati? Bukaan! Bukan hati gue yang sakit. Itu kaki gue yang sakit. Ujunganya perih gara-gara gesekan sama sepatu. Sampe memerah gitu. Akhirnya mau nggak mau gue memutuskan untuk pulang. Rasanya puas bisa jalan-jalan ke malioboro sendirian for the first time. Inget yaaa, gue jalan dengan cool. Bukan kayak orang ilang!

Oke. Sampai sini dulu. Biar kaki memerahku sembuh dulu dan nantikan jalan-jalan upik abu selanjutnya :D






tt>
This share facebook







Kamis, 28 Agustus 2014

GR meter

Andai aku punya alat yang namanya GR meter. Aplikasi yang bisa mengukur tingkat dimana kapan aku hanya keGRan belaka atau kapan bahwa perasaan itu bukan sekedar GR. Keren kali ya? Dengan alat semacam stopwatch atau speedometer yang ada jarum penunjuknya berwarna merah dengan ujung jarum bentuk love (bahahaha).

Kalo alat ini beneran ada aku mau beli dah. Hihi, atau kalo bisa didonlot dari playstore aku donlot saat ini juga hehe.. Terus ku bawa keliling kemana-mana. Supaya aku tau "Ini cuma aku yang keGRan, apa emang beneran?"

Kalo ternyata cuma GR kan kita bisa segera membatasi diri buat nggak terlanjur jatuh jauh ke jurang keGRan. Abisnya susah penyakit yang satu ini. Kalo udah terlanjur GR trus ternyata kenyataannya berkata lain kan kasian bin berabe. Sudah berbunga-bunga bak dapet sinyal dari tawon.. Eh, dari kumbang ding maksudnya. Ternyata si kumbang nancep ke kembang yang lain. Rontok, rontok dah.. Tinggal milih mau ngeratapin nasib apa gigit jari hahaaha..

Makanya kayaknya butuh banget nih punya alat GR meter. Yang bisa dikonekkan langsung mendeteksi sinyal-sinyal gelombang yang kemudian akan ditangkap oleh reseptor kemudian diinterpretasikan menjadi "ini hanya GR" atau "ini bukan GR lho, kamu bisa feel free buat berbunga-bunga" bahahahaha..

Banyak yang kadang ngerasa kalo orang yang disukai itu ngasih sinyal. Misal orang yang kita sukai itu tiba-tiba ngelihat kearah kita, langsung dah "Ih dia ngeliatin aku..". Padahal, dia lagi ngeliat lalat terbang deket muka kita.

Jadi karena GR meter itu nggak ada, mending kita install manual aja tuhh dihati kita masing-masing yaaa.. Jangan sedikit-sedikit mengartikan kebaikan orang lain buat kita itu sebagai perasaan khusus. Bisa jadi dia emang beneran baik ke siapapun. Bukan cuma ke kita doang. Tapi ya jangan terus terlalu kebal sama GR, nanti bisa jadi nggak peka. Ada yang udah ngasih sinyal kuat sampe towernya ngalahin monas, eh nggak ditanggepin juga.

Selamat menginstall GR meter dihati masing masing :)

Selasa, 22 Juli 2014

Judul : Nyanyian Selamat Tinggal



Oleh : Almaidah Swan

Dua pasang kekasih itu duduk di taman yang terletak di pinggir jalanan kota. Mereka berdua menatap ke arah air mancur di tengah kolam. Keduanya masih sama-sama terdiam dengan pandangan kosong. Dua pasang kekasih yang sebenarnya telah diujung tanduk.

Si wanita sedari tadi menggenggam kotak musik dengan erat di tangannya.

“Maafkan aku Reksa.” Gumam Alysa. Ditatapnya wajah Reksa yang masih menatap kosong lurus ke arah air mancur di kolam.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan. Sejak aku tahu kamu lebih memilih orang lain maka sejak saat itu aku memutuskan untuk tidak memiliki perasaan apapun terhadapmu. Bahkan marah pun aku tidak ingin. Jadi tidak ada yang perlu untuk dimaafkan.”

Mendengar perkataan Reksa, Alysa menjadi semakin merasa sangat bersalah. Sepertinya Reksa sekarang telah menjadi sangat keras dan tidak akan lunak lagi dengan perkataan maaf darinya.

“Kotak musik ini?”

“Oh. Itu sudah menjadi milikmu sejak aku memberikannya padamu tiga tahun lalu. Kalau kamu tidak suka, kamu buang saja.”

Alysa membelai kotak musik pemberian Reksa dalam rangka anniversary mereka yang pertama.
Kini mata Alysa basah. Ia tidak pernah diperlakukan sedingin ini oleh Reksa sebelumnya. Alysa memang saat ini telah memutuskan lebih memilih orang lain. Bukan karena ia sudah tidak mencintai Reksa, tetapi ia tak mampu mengendalikan hatinya untuk tidak mencintai orang lain.

“Karena mulai saat ini kita sudah tidak ada apa-apa lagi, sepertinya tidak ada alasan untukku tetap di sini bersamamu. Jadi aku pergi.”

Reksa meninggalkan Alysa yang masih menggenggam erat kotak musik pemberiannya. Kotak musik yang hanya akan menjadikan lagu di dalamnya sebagai nyayian selamat tinggal sekarang.

Kau dan Selendang Merah







by : Almaidah Swan







 Angin pantai sejuk membelai wajahku yang masih terduduk di pantai. Debur ombak sedari tadi telah memanjakan telingaku. Aku selalu suka pantai ini. Sepi. Hanya ada kau, aku, dan selendang merah kita.
Masih selalu hangat dalam pikiranku. Hari itu-20 tahun yang lalu-kau melamarku di pantai ini.
“Will you marry me?”
Kau mengeluarkan selendang merah cantik dari tasmu. Memberikannya padaku.
“Aku akan mengikat hatimu denganku seumur hidupmu pakai selendang ini.”
Pantai ini pun menjadi saksi, bahwa sebentar lagi kita akan menikah. Namun, aku tidak pernah mengira hal itu akan terjadi. Kecelakaan maut yang merenggutmu dariku. Merenggut pernikahan kita yang sudah dipersiapkan dengan rapi.
Aku menghela napas. Membelai selendang merah yang ku kalungkan di leherku. Kembali ku nikmati indahnya pantai. Indah menyimpan kenangan kita.
Apakah kau tau? Sampai hari ini kau berhasil mengikat hatiku denganmu seumur hidupku.

Rabu, 02 Juli 2014

Pesan dari Pasien Skizofrenia

Saya mendapatkan puisi yang cukup bagus menurut saya.. Puisi ini khusus diberikan untuk saya saat saya melakukan penelitian di sebuah rumah sakit di DIY. Saya juga kurang tahu ini grammarnya bener apa enggak.



Excellent



We had been created as human, pure, smart.



(Kita tergolong sebagai manusia yang suci, dan cerdas)



We have healthy brain, heart, and i feel perfect



(Kita memiliki akal sehat, rasa, nikmat yang sangat amat mulia)



People smart always gratefull



(Orang yang cerdas selalu bersyukur)



We must to joint experiences we cant arrogant



(Kita harus mengamalkan pengalaman kita tidak boleh pelit dan sombong)



Friend do not cheat or you will lose yourself



(Kawan janganlah curang nanti kamu rugi sendiri)



My friends, do not lie, because your life cant happy



(Kawan janganlah dusta nanti hidupku bisa celaka)



I feel good today and happy moments



(Saya merasa baik hari ini momen penuh senyum dan bahagia)



 

Terima kasih untuk pasien yang telah memberikan banyak pelajaran  pelajaran pada saya selama saya melakukan penelitian skripsi saya.

 

Sabtu, 21 September 2013

Antologi pertama






Ini adalah antologi pertama saya :) pas ini ikut event dari penebit harfeey (https://www.facebook.com/PenerbitHarfeey?fref=ts) . Nggak nyangka sekali kalau waktu itu bisa lolos. Senangnya..

Ini Detail tentang buku antologi pertama saya :)

Judul buku ini "Kepada, Ayah"  Jilid ke-6
-Sosok sedikit bicara, banyak bekerja-

Genre : Kumpulan FTS
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin & Ary
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-7876-47-7
Tebal : 145 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp37.000,- (Harga kontributor Rp31.000,- setiap pembelian bukunya)

Sinopsis

Kepada, Ayah...
Yang sebagian diriku berasal darinya.
Kepada, Ayah...
Yang rela merendahkan diri demi meninggikanku, anaknya.
Kepada, Ayah...
Yang dalam diamnya terdapat banyak cerita.
Kepada, Ayah...
Yang menghidupiku dari perahan peluh dan airmata.
Kepada, Ayah...
Ku tulis kisah untuk mengabadikannya.
Hanya kepada, Ayah...
^^^
Kontributor :
Boneka Lilin, Ary Hansamu Harfeey, Mico Naufal Pratama, Andhani, Dita Heriwiendyasworo, Muhammad Salamun Asngari, Desiana Rahmah, Dikpa Sativa, Ennie Affandi, Muhammad Zamrud Al Firdaus, Dewi Ratika, Md Rina, Irfan Nazhran, Nikodemus Niko, Wahda Khadija Salsabiila, Ranti Maretna Huri, Nafi’atul Azizah, Ayu Megawati, Aisa N. Khumairah, Hamidah Jauhary, Desta Anjar Rini, Ziana Zakiah Sidik, Nur Indah Ariyani, Nita Novita, Alfahika, Laily Fitriani, Pintha Febrianty, Tasliyah Noor Ningtiyas, Ismaya Novita Rusady, Zulfa Kamila Nur Azizah, Cikmah Triyuliani, Muhrodin A.M, Almaidah Swan, Hani Mulianisih, Dwi Wahyuni Apriyanti, Desi Tri Rahmawati.
*


Semoga bisa terus tetap berkarya :)


This share facebook







Jumat, 25 Mei 2012

Insya Allah yaa.. ^_^

Assalamu’alaikum..

Alkisah dulu sewaktu aku masih kecil.. Hehe..
“Besok maen yuk.” ajakku penuh harap.
“Ya, Insya Allah.” jawab temanku.
Besoknya saat kutunggu ternyata dia nggak dateng.. Huh! >_< beteg rasanya. Lain hari ketika aku menanyakan dia bilang begini nih :
“Kan aku kemarin udah bilang Insya Allah.” begitu katanya.

Jadi apakah ketika bilang Insya Allah berarti bisa dengan mudah mengingkari janji?!
Lalu sejak saat itu, ketika membuat janji dengan orang lain aku jadi sebel kalau mereka jawab, “Insya Allah yah.” Itu pasti ngalamat bahwa mereka akan mengingkari janji mereka. Dan memang sering sekali seperti itu. Jadi aku sempet anti kata “Insya Allah” untuk beberapa saat. (maap ya Allah, maap. ^_^V)

Aku selalu bertanya-tanya mengapa kebanyakan dari mereka selalu salah mengerti dengan kata “Insya Allah”? Banyak orang yang sudah mengucap “Insya Allah” berarti mereka sudah aman, jika mereka hendak melanggar janji. Kalau ditanya kan tinggal bilang aja, “kan kemarin aku bilangnya Insya Allah”. Padahal “Insya Allah” itu artinya 90% lebih IYA.

Jadi apa sih sebenarnya arti dari kata Insya Allah itu???
Jadi “Insya Allah” itu artinya “Jika Allah menghendaki”. Terkadang kita tidak menepati janji bukan karena Allah SWT tidak mengehendaki, tetapi karena memang kitanya aja yang tidak memiliki “kehendak” untuk menepati janji kita. Jadi diinget yah, “Insya Allah” itu artinya “Jika Allah menghendaki” BUKAN “Jika aku menghendaki”. Jika aku menghendaki ya aku tepati, kalau aku nggak menghendaki ya aku nggak akan tepai janji itu.

Kemudian aku menemukan ayat ini (Surah AL-KAHFI) :
23 : “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi,”
24 : kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat (kebenarannya) dari pada ini."

Jadi, nggak boleh anti lagi dengan kata “Insya Allah”. Dan juga jangan lagi salah mengenai arti kata “Insya Allah”.
Ayoooo.. Dirubah mindset-nya ^_^V
Wassalamu’alaikum..