Selasa, 06 Juni 2017

Save Linkin Park, From Metal to Pop

Ngambil dari instagram.com akunnya Linkin Park 


Kamu suka denger musik? Watching TV or film? Reading books? Makin kesini hal hal seperti ini makin ngga jelas ya.

Semua lebih suka menuruti maunya orang lain. Bukan lagi memperhatikan passion ataupun kesenangan sendiri dalam berkarya. Orang nyiptain musik, acara TV,  film ataupun buku berdasar apa yang laku dipasaran. Yang nda mau ikut maunya pasar akan hilang namanya. Kek saya mungkin males menulis mengikuti pasar. Alhasil hilang nama saya dari peredaran pernovelan (hahaha alibi,  padahal emang karena males berkembang).

Jadi sebenarnya saya ingin bahas soal genre musik salah satu band kesukaan saya. Apa itu? Big bang? EXO?  One Direction? No!

Actually, it's Linkin Park gaes! Denger lagu band ini udah dari SD. Saat harusnya saya dihiasi lagu anak anak balonku ada lima atau tepuk anak sholeh kan malah saya sering teracuni lagu Linkin Park. Waktu itu belum ngerti bahasa Inggris. Nah, mulai suka semenjak SMP. Jaman dulu keren, masih ada MTV musik musik international gitu. Kalian pasti tahu dong lagu "What I've Done" nya Linkin Park?! (Kebangeten nek ra ngerti). Dulu munculnya bareng bareng sama 30 seconds to Mars yang judulnya "From Yesterday". Hitz juga ini dulu di MTV.

Saya memang ga bisa main musik.  Nyanyi apalagi. Saya cuma pendengar. Itu pun sering kudet alias kurang updet. Tapi sekudet kudetnya saya yah,  setahu saya yaaah dari saya kenal lagu Linkin Park, dari jaman Om Chester masih uhuy mereka ini melabeli diri bahwa mereka ini band Metal. Coba aja tuh dengerin Hybrid Theory, metaaaal abis.

Tapi kalian tahu gak sih ketika single "Heavy" Linkin Park yang baru saja muncul featuring dengan Kiara? Kedengeran agak soft kan? Kurang Metaaal broh. I thought, "oooh lagunya agak slow yaa.. Gak kayak biasanya. Apa mungkin karena duet sama Kiara kali ya." Tapi karena suaranya Om Chester emang keren jadi termaafkan lah ya. Mungkin ini lagunya agak agak macem versi "Shadow Of The Day" gitu atau "Leave out of the rest".

Setelah ada yang meributkan soal ini di fesbuk,  saya baru mulai penasaran. Ternyata emang genre musiknya Linkin Park bergeser. Apalagi setelah saya tau single yang "Battle Symphony". Ternyata Dua single Linkin Park dari Album barunya yang One More Light ini genrenya Pop semua. Oh my...

Ya jelas beda dengan "Shadow of the Day" dan "Leave Out All The Rest" yang notabenenya bergenre alternative rock.

Apa mereka mulai mengikuti pasar? Apa mereka seperti Taylor Swift yang awalnya dengan musik bergenre Country jadi Pop juga. Wah padahal saya saat itu merasa senang ada penyanyi muda keren yang sukses dengan lagu country.

Oke,  back to Linkin Park. Kalau kalian search di Wikipedia kalian bakal bisa nemuin kalau di sana Linkin Park masih tertulis sebagai American Rock Band tapi genre musiknya Pop,  cuy!
Masa iya kita harus bikin hastag #savelinkinpark #kembalikanlinkinpark hahha.

Yah apapun itu alasan Linkin Park  bagi saya suara Om Chester yang keren,  bisa lah termaafkan. Tetep uhuy lah. Mungkin itu memang sudah menjadi pilihan mereka.  Hiks.

Satu lagi band yang saya sangat suka, yang udah saya sebutkan tadi di depan.  Thirty seconds to Mars, bergenre alternative rock. Band ini cukup konsisten sih sama genrenya dan mereka tetep masih bisa eksis kok. Masih sering ngadain konser juga. Dan fans nya bejibun. Jadwal tour nya bulan Juni aja udah bejibun banget tuuuh!

Saya nggak ngerti lagi nanti ketika 30 Seconds to Mars dan Avenged Sevenfold jadi nyanyi pop 😰. Atau jangan jangan malah berubah jadi boyband kayak oppa oppa Korea (kalau mereka sih cute). Duh maaak.

Yah semoga saja apapun yang kita lakukan itu tetap bisa memfasilitasi passion kita ya,  gaes. Jangan lupa!  Hastag #savelinkinpark hahaha.

PS : artikel ini saya tulis terinspirasi setelah bang shiro ngampus posting di status FBnya soal lagu Heavy versi NU Metal 😁

Sabtu, 13 Mei 2017

Seperti Apa Orientasi JODOH mu?

Mari kita buka bahasan ini dengan check orientasi masing-masing. Tahun berapa sekarang? Kalau yang jawab dua ribu tujuh belas berarti selamat orientasi kamu masih bagus. Kalau yang jawab 2015 mungkin bukan orientasi kamu yang terganggu tapi mungkin kamu belum move on aja. Ups.

Well,  2017 ini berapa umurmu? Kalau nggak mau mengakui umur berarti anggap aja kamu gangguan orientasi umur.

Kalau saya sih ngaku aja,  umur saya udah dua puluh empat.  Belom lho,  belum 25 jangan sensi. Umur-umur segini sih katanya udah pantes mikirin jodoh. Aku udah bilang lho, "KATANYA". Jangan sensi. Kalau saya sih santai. As long as you're not going to comment this article with kind of question like "Kamu kapan nikah?", aaah saya mah santai.

Orientasi tahun sudah,  umur sudah,  trus kek mana macam orientasi jodohmu? Uhuk.
Baiklah tadi udah tahu kan ini tahun berapa dan umurmu berapa? Jadi orientasi jodohnya tolong disesuaikan. Jangan maunya yang selangit. Nanti 2030 baru kesampean terbang ke langit.

Kalau kamu masih 17-20 tahun ya masih pas lah kalau kamu pengen jodoh yang ganteng,  sholeh,  kaya,  putih, wangi,  bla bla blaaah.. Itu juga kalau ada yang macam itu mau sama kamu. Eh,  maaf. Jangan sensi, yaa.

Kalau jodoh mah nggak harus ganteng/cantik , kan katanya ganteng/cantik itu relatif. Nanti kalo udah cinta juga ganteng sendiri. Eh.

Yang terpenting itu gambaran masa depannya kayak apa. Punya ndak dia gambaran masa depan yang jelas dan realitis. Jangan cari yang cuma ngajak hidup susah. Eits,  jangan sensi dulu. Mari kita bahas soal ini.

Kamu akan pilih pasangan yang mana diantara kedua ini :

Pertama : "Aku ini cuma kerja sebagai karyawan. Gajiku sebulan cuma 500rb. Apa kamu masih mau sama aku? Apa kamu mau menerimaku apa adanya? Aku nyari istri yang mau diajak hidup susah."

Kedua : "Aku bekerja sebagai karyawan. Gajiku sebulan 500ribu. Memang tidak banyak,  tapi aku akan berusaha untuk mencari tambahan lain. Aku akan berusaha membahagiakanmu. Kita akan merawat rumah bersama,  membersihkan rumah bersama,  memasak bersama,  merawat anak bersama. Melakukan segalanya bersama. Jadi kamu mau kan menerimaku? "

Jadi kamu pilih orientasi pasangan yang pertama atau yang kedua? Sama kok. Sama sama karyawan dengan gaji 500ribu.

Kalau saya sih pilih yang kedua. Menghargai pekerjaannya dan masih punya rencana buat improve diri kedepannya. Dan yang jelas berjanji untuk membahagiakan. Urusan mburine piye mbuh ngko dipikir keri. Eh,  maaf. Jawanya keluar.

Intinya yang penting berjanji untuk menbahagiakan. Urusan itu nanti bertemu banyak penyulit hidup saat bersama kan bisa dihadapi bersama dengan saling menyemangati,  memotivasi,  kan jadinya tetap bahagia.

Selama ada Mas,  adek nggak akan ngerasa sedih. Uhuk.

Jadi masih mau diajak hidup susah? Karena energi positif pada pasangan yang baik akan membuat hidup terasa ringan meski keadaan sulit menghimpit.

Soal menerima apa adanya itu kalau dari awal sudah disebutkan sebagai karyawan dengan gaji 500ribu, ya pasti tho sudah diterima dengan apa adanya. Gausah nanya lagi.

Lagian apa adanya gak selalu bagus. Nih quote favorite saya. Quote by Almaidah Swan. "To be who you are is not always good. Sometimes you need to change." Orang itu kan harus selalu berubah menjadi lebih baik. Gausah berat-berat mikirnya. Contoh aja hari ini skor baiknya 27 persen yaah besok-besok meningkat lah jadi 27,5 persen.

Kadang ada yang bilang "Jadi dirimu sendiri aja. Biarkan orang lain mencintaimu apa adanya."
Apa adanya disini akan berbeda maknanya. Mari kita bedakan dalam 2 case.
Yang pertama, "aku nggak begitu suka ke mall sukanya ke tempat wisata. Lalu kamu memaksanya untuk menyukai Mall seperti kamu. Yo nggak bisa! Itu merubah dia yang apa adanya.
Yang kedua, Ya beginilah aku apa adanya. Sholat masih sering bolong,  ngaji belum bisa, apalah aku ini. Lah. Then you need to change! Katanya mau dapet jodoh sholeh/ah.

Kemudian akan terlihat lebih optimis, berani, dan bersemangat ketika bilang "Ka
mu mau kan menerimaku?". Seolah olah jawabannya itu cuma IYA.

Beda kan sama "Kamu masih mau sama aku?". Yo nek aku tak jawab ORA, mas. Alias ngga mau saya. Keliatan pesimis gitu sama diri sendiri. Gimana nanti orientasi masa depan kita,  Mas. Gimaanaaa?! Eh,  maaf mulai nggak santai.

Jadi bahasan yang segambreng ini intinya,  gausah pilih pasangan yang muluk-muluk. Cukup punya rencana masa depan yang jelas dan memang sedang dicoba untuk direalisasikan. Menemani berjuang kan akan lebih so sweet daripada tiba-tiba udah dapet orang mapan dan sukses. Kalau dia udah tiba-tiba mapan dan jadi sukses ngapain dia mau sama kamu? Kan dia bisa nyari yang lebih mapan dan sukses juga? Eh,  sensi lagi ya? Maaf.

Jadi yuk inget ini udah tahun berapa,  umur berapa,  jangan lagi berpikir terlalu tinggi sampai kita lupa menyadari posisi kita sendiri.

Inget orientasi umur, mulailah orientasikan jodoh dengan baik.
Toh sebenarnya ngga ada yang ngelarang sih kamu mau jodoh ganteng, mapan,  duitnya banyak, dan lain-lain. Tapi kan lebih baik tho kalau mengorientasikannya berdasarkan agama.

Orang yang baik agamanya kan tau kalau tidak menyia-nyiakan masa depan,  kesehatan,  dan waktu itu penting. Apalagi tidak menyia-nyiakanmu itu yang terpenting. Uhukkkk..


Sabtu, 26 November 2016

Saat Kau Menembur Sawar Darah Otak

Kau ingin lihat penampakan otakku dari sebelah mana? Sagital,  Coronal,  atau Axial?

Kau lihat dari penampang manapun akan ada namamu disana.

Aku juga tidak tahu kenapa kau bisa masuk menembus sawar darah otak (Blood Brain Barrier) milikku sehingga kau bisa penuh berada di dalamnya.

Aku bisa menjumpai namamu di dalam lobus frontal, lobus temporal, dan juga di cerebellar hemisphere.

Oh bahaya sekali,  kau bahkan berada di dalam pons otakku. Apa kau bahkan tahu kalau itu pusat bernapasku? Kau bisa membuatku sesak dan berhenti bernapas kau tau?  Tetaplah disana atau kau akan membuatku apneu.

Kau harusnya tau,  kau terlalu masuk ke dalam diriku. Ke dalam otakku. Dan apakah kau tahu itu sama pentingnya seperti jantungku?

Sub arachnoid milikku penuh denganmu,  begitu juga dengan duramater dan piamater. Padahal harusnya kau tahu itu berhubungan dengan sistem saraf pusat. Lalu bagaimana nanti jika kau pergi dan menjadi terinfeksi.
Aku bisa sempurna lumpuh.


Karena kau sudah terlanjur disana maka ditetaplah dalam otakku.  Mengisi setiap lobus-lobus.  Mengisi seluruh penampang. Juga tetaplah berada di ponsku agar aku tetap bisa bernapas.

Jagalah otakku baik-baik yaaa.  Jika engkau pergi aku tak tahu apa yang terjadi. Bahkan syaraf parasimpatisku mungkin takkan mampu bekerja memompa jantung.

Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya? Ya, asistole dan medriasis maksimal.

Selasa, 20 September 2016

Mukena Jangan Sampai Menganggu Kekhusyuan

Kamu suka jenis mukena yang kayak mana? Kalo saya sedari kecil suka mukena dari kain katun lalu dibordir dengan warna benang yang cantik-cantik. Begitu sudah terlihat mewah. Sampai saat ini saya juga masih menyukai mukena jenis ini.

www.maminani.com
Saya sebenarnya kurang suka dengan mukena berbahan lain yang kadang berwarna-warni full motif entah motif bunga-bunga, batik dan semacamnya. Apalagi mukena tipis warna-warni yang menerawang saya juga sebenarnya kurang suka meskipun ketika bepergian satu-dua kali saya juga mengenakan itu. Kecuali ditempat sholat yang ada sudah tersedia mukena yang lebih tebal maka saya akan memilih mukena yg lebih tebal di tempat tersebut daripada yang saya bawa sendiri.

Yaaah, kesukaan orang memang berbeda-beda. Mau pakai mukena seperti apa monggo. Yang penting tidak menyimpang dari syariat. Menutup aurat dan tidak menganggu kekhusyukan sholat kita.
Tetapi jujur untuk mukena yang bergambar tokoh karakter kartun dan semacamnya ditambah lagi dengan tulisan-tulisan saya kurang toleran dengan yang satu ini.

Kisah ini saya temukan beberapa minggu lalu ketika sholat hari raya idul adha. Yang benar saja. Ketika sholat didepan saya ada anak kecil berjalan-jalan mengenakan mukena bergambar tokoh animasi froz*n kemudian ada tulisannya. Kan ngganggu konsentrasi banget pas saya lagi sholat tiba-tiba baca itu. Dan kalian semua pasti tahu kan kalau tokoh di animasi film itu memiliki rambut panjang terurai dan tokoh itu tidak berjilbab? (yaa keles tokohnya pakai jilbab haha..)

Duh saya udah ngga ngerti lah jaman sekarang ini. Aneh-aneh wae. Pasti  yang baca ini ada yang berkomentar, “Berarti sholatmu ngga khusyu ya? Kok bukannya menunduk malah baca tulisan froz*n?”

Boleh anda berkomentar seperti itu, saya akan menjawab singkat. Sederhananya di dunia ini siapa sih yang sholatnya bisa khusyu selain nabi Muhammad s.a.w? Kita semua bisanya hanya berusaha khusyu (wajib berusaha khusyu). Tapi ya apa daya kalau ada anak kecil yang belum begitu paham tentang sholat seliwar-seliwer di depan barisan kita sholat dengan menggunakan mukena bertuliskan judul-judul film animasi? Ya Alloh ampuni saya karena kekhusyuan saya pasti terganggu karena kemampuan saya untuk berusaha khusyu masih terbatas.

Boleh saja memberikan mukena lucu yang bisa membuat  anak untuk lebih termotivasi lebih rajin sholat. Niat orang tua memang baik. Selalu baik, saya tahu itu. Tetapi tolong dilihat lagi yaaa bagaimana yang seharusnya dan tidak seharusnya.


Minggu, 19 Juni 2016

Kalau Imannya Kuat Pasti Nggak Akan Tergoda!

Saya sebenarnya sudah sangat mengantuk sekali. Tetapi saya semenjak beberapa hari terakhir gatal sekali ingin menulis.

Saya sebenarnya (lagi) sudah mikir dulu sebelum menulis ini. Tetapi kalau pemikiran saya berbeda dengan anda, ya tolong dimaklumi. (Namanya juga penulis amatir, namanya juga imannya masih baru diperkuat).

Beberapa hari ini juga saya melihat tulisan-tulisan wara-wiri di news feed pesbuk saya. Temanya soal warung makan yang ditutup gegara menjual makanan saat bulan puasa. Banyak banget yang berusaha mengungkapkan pendapatnya. Baik yang pro maupun yang kontra. Ada yang menggunakan bahasa halus, tapi ada juga yang frontal.

Katanya begini, “Warung buka saat bulan puasa mah nggak papa. Kita kan harus menghargai yang nggak puasa. Kalau emang dasar imannya kuat pasti nggak akan tergoda”.

Sik, bentar! Sedilit. Masalahnya di dunia ini tidak semua orang imannya sekuat anda. Ada orang-orang yang masih sedang dalam proses pembelajaran untuk memperkuat imannya. Sedang belajar untuk menahan lapar dan haus beserta nafsu supaya pada akhirnya mencapai orang dengan taraf iman yang kuat yang anda bilang tidak akan tergoda.

Saya sendiri sebenarnya juga tidak tahu pasti kenapa insiden mengenai warung yang ditutup secara paksa itu terjadi. Hanya saja saya kecewa dengan komentar-komentar orang mengenai hal tersebut. Terlebih lagi bagi para muslim. Komentarnya kadang terlalu pedas dan frontal. Jangan sibuk berkomentar sana-sini dulu ketika ada sebuah kejadian. Jadilah muslim yang cerdas. Banyak membaca sebelum berkomentar. Kalau tidak terlalu paham dengan urusan rumah tangga orang ya nanti dulu komentarnya.

Well, mungkin nalar kita pada akhirnya akan tetap sulit memahami. Terlebih lagi banyak yang menyatakan pendapat yang pro dan kontra. Terserah anda mau ikut pendapat yang mana. Tapi sampaikanlah pendapat dan dukungan anda dalam wujud yang mencerminkan muslim yang  cerdas.
Kalau masih sulit dipahami juga, mungkin saya akan mengajukan pertanyaan mengenai satu hal. Mungkin jika menurut kalian berjualan makanan saat puasa itu diperbolehkan demi menghargai yang tidak puasa, lalu bagaimana menurut kalian jika menyalakan musik dengan keras di samping orang yang sedang sholat lalu saya bilang “Ah ngga papa. Kalau imannya kuat, sholatnya pasti nggak akan tergoda!”

Selalu ada cara bagi setiap masalah agar terselesaikan. Seperti pada pertanyaan saya. Kalau ada yang ingin mendengarkan musik tetapi ada yang sedang sholat, ya pakai saja headset. Kalau tetap ingin berjualan saat bulan puasa ya tidak apa-apa, tapi kan bisa ditutupi atau dijualnya hanya kepada yang benar-benar tidak berpuasa saja seperti ibu hamil, menyusui, wanita yang sedang menstruasi, anak yang belum baligh, atau non muslim.


Selalu ada cara juga untuk menyampaikan pendapat dengan baik. Jadilah muslim yang cerdas.

Jumat, 22 April 2016

Kartini Day (Urip Iku Kudu Urup)

Sugeng sedoyo poro sederek? Alhamdulillah.

Ning tulisan postingan iki aku arep nganggo boso Jowo gaes. Asek! Tumben yo? Iyo nggak popo. Ben pisan-pisan ketok Jawane. Yo ambokno mengko rodho dicampur karo boso inggris sithik ben nggaya rapopo yo, gaes.

Piye gaes lebar kartini-an tanggal 21 April wingi? Podho ayu-ayu yo mesthi gaes. Sing putri-putri nganggo kebaya koyo kartini. Sing kakung podho nganggo ageman jas koyo kartono.

Ono sing nganggo klambi kebaya yo mung sak onone lan sak duwene klambi kebaya. Ning yo ono sing khusus nyilih ning salon. (Eh yo uduk nyilih yo? Nyewo. Penak men nyilih.) Ugo ono sing ndandakke khusus kebaya apik banget gawe kartini-an. Biasane uong sing sugih-sugih opo sing podho di endorse. Yo nek nduwe duit turah-turah mono yo ora popo ndandakke khusus kebaya apik modern kanggo acara kartinian. Ning yo kui lho, pletekane ki ora usah duwur-duwur nganti ketok pupune. Kui arep kartinian opo arep bakulan pupu. Oh my God, that was really sexy.

Bocah sekolah jaman saiki podo kudu nganggo kebaya yen dino pengetan kartini. Nganti nyalon, nganggo sandal jinjit, gincunan sing abang branang, nyewo klambi seko salon. Wes meh persis koyo wong wisuda. Jamanku ora ono kartini biyen ngono kui.

Sejatine yo ora popo iku mau ki. Arep podo dandan ayu nganggo kebaya apik. Entek duit akeh kanggo nyewo utawa kanggo gawe kebaya. Nanging mbok iyao eling what the meaning of Kartini’s day celebration.

Kartini iku jaman biyen berjuang ora kanggo supaya kowe kabeh poro wadon isoh lenggak-lenggok pamer kebaya apik lan branded designer terkenal sing pletekane tekan pupu utawa nyewo seko salon apik sing duite le njaluk pak mbok e. Nanging Kartini iku berjuang ben koe kabeh poro wadon isoh podho sekolah. Dadi yo teko podho sekolah wae sing bener. Ojo dadi wong bodho koyo aku iki, gaes. Susah mengko tembe mburine.

Once again gaes. You have to remember the meaning of the celebration, ora mung pepengetane wae sing dieling-eling tanpo mikirke opo maknane. Ojo mung siap-siap dandan ayu nganggo kebaya tapi yo ugo semangat e kanggo belajar. Ora mung do selfie rono selfie rene. 

Dadikno dino Kartini kuwi kanggo pepiling opo wae tho ingkang wes dicapai awakdewe poro wanito kanggo bongso lan negoro. Yo nek keduwuren mikir tekan bongso lan negoro yo uwis kanggo keluargane wae. Opo awakdewe poro wanito iki uis menehi manfaat kanggo keluwargone dewe? Amarga urip iku kudu urup. Wong wadon yo kudu isoh agawe urup.

Kartini iku berjuang kanggo supoyo pendidikan wong wadon jaman saiki iku luwih apik. Yen pendidikan soyo apik yo mengko moral e isoh luwih apik. Isoh oleh gawean lan papan sing luwih apik. Lan ugo dihargai karo wong liyo.

Delok wae wong wadon saiki! Diperjuangke karo Kartini supoyo biso sekolah. Mbasan isoh sekolah, lagi wae bar ujian nasional klambine uis dicoret-coret. Pengumuman lulus wae durung. Do you know how that would make Kartini feels? Sedih, cah. Aku iki yo mung wong bodho, nanging yo ora ngono-ngono banget.

Kartini ugo berjuang ora mung kanggo sekedar supoyo wong wadon isoh bebas berekspresi. Jarene emansipasi. Yo berekspresi nek nganggo duite dewe yo oleh. Ngopo aku ngelarang, aku mbiayai yo ora. Nanging luwih becik yen berekspresi iku tetep ono ning dalan e. Udu bebas tanpo wates. Ngono yo ngono ning ojo ngono.

Dadi yen ono pepengetan dino opo wae kui, ojo podo ribut-ribut nyiapke perayaane nanging luwih penting eling maknane lan instrospeksi diri. Not just doing have fun without meaning. It will be all waste.

Ojo mung seneng-seneng tanpo piwulangan.


 Happy Kartini's Day, yo gaes!



Senin, 11 April 2016

Tidak Akan Pernah Cukup



“Aku gendutan nggak?” Rere mengamati dirinya sendiri dari atas sampai bawah.

 “Enggak, Re. Kamu sudah ideal. Cantik.” Jawabku bersungguh-sungguh.

“Masak sih? Tapi tadi aku nimbang naik 5 Ons.”

“Astaga, baru 5 Ons. Belum 5 kilo. Nanti juga turun lagi. Sudah ayo, kita jadi pergi kan?”

Dengan tampang Rere yang cemberut akhirnya kami segera pergi menuju ke pesta pernikahan sepupuku.

Di perjalanan aku sibuk merayu, menenangkan, menghibur atau entah apa pun namanya agar Rere tidak lagi membahas mengenai berat badan. Lagi dan lagi.

“Tapi kan aku nggak mau kelihatan gendut. Apalagi pasti nanti di pesta banyak saudaramu. Nanti kamu malu gimana?”

“Malu kenapa? Kan kamu pake baju. Hehe. Kalau kamu nggak pake baju baru aku malu.

“Ih Radit!”

Sepertinya Rere bertambah marah dan aku tidak mau lagi bertengkar karena hal ini.

“Kalau aku malu, pasti aku nggak akan ngajakin kamu. Aku pasti udah ngajakin cewek lain yang kurus kering.”

Kembali aku melayangkan senyum setulus mungkin.

Akhirnya kami sampai di gedung tempat pesta pernikahan sepupuku diselenggarakan. Setelah menyalami kedua mempelai dan para saudara yang datang aku mengajak Rere untuk menghampiri stand makanan.

“Es krim? Kamu suka banget kan?” Aku menawari Rere.

“Enggak deh. Aku nggak mau beratku nambah lagi.”

“Astaga, Re. Ini kan cuma es krim. Dikit aja.”

Rere menggeleng.

“Atau mau makan? Aku ambilin yah?”

“Enggak. Aku nggak lapar.”

Baru saja Rere bilang seperti itu tiba-tiba ia pingsan. Membuat heboh seluruh undangan yang datang ke pesta.

Tanpa banyak berpikir, aku segera membawa Rere ke rumah sakit. Lama sekali aku menungguinya sadar. Berharap ia akan baik-baik saja.

Akhirnya dokter yang merawat Rere memintaku menemuinya.

“Jadi bagaimana, Dok?”

“Rere ini kekurangan banyak cairan. Dia juga mengalami hipoglikemi atau kekurangan kadar gula karena sepertinya terlalu banyak diet. Apalagi setelah dikaji oleh perawat kami Rere sering  memuntahkan kembali makanannya. Kalo terus seperti ini mungkin bisa bahaya. Bahkan mungkin bisa terkena anoreksia.”

“Anoreksia?!”

Dokter itu dengan pengertian menjelaskan padaku bahwa jika Rere sering memuntahkan kembali makanan yang ia konsumsi maka ia akan mengalami obsesi berlebihan untuk memiliki tubuh kurus sehingga membuat penderitanya akan menolak untuk makan.

Setelah dokter menjelaskan lebih lanjut tentang kemungkinan buruk itu, aku segera membujuk Rere. Bagaimana pun dia harus berhenti bersikap seperti ini.

“Re, bagiku seperti apa pun kamu, kamu tetap akan jadi Rereku. Mau kamu gemukan atau kurusan masa bodoh, Re. Mauku kamu tetap sehat. Supaya kita bisa selalu menghabiskan waktu bersama, makan bersama, jalan bareng.

Bebas tanpa melulu memikirkan soal berat badan dan penampilan. Semua nggak akan ada artinya kalau kamu sakit, Re. Semua nggak akan berarti.”

Tidak mudah untuk membuat gadisku ini mengerti.

“Tapi aku ingin selalu terlihat cantik di depanmu. Setiap perempuan ingin seperti itu di depan pasangannya.”

“Kamu ingin terlihat cantik di depanku atau terlihat cantik menurut persepsimu? Kalau kamu ingin terlihat cantik di depanku maka kamu sudah lebih dari cantik. Terlebih kalau kamu bisa mencintai dirimu sendiri. Dengan menjadi sehat dan menjaga berat badanmu dengan baik.

Kalau kamu ingin terlihat cantik menurut persepsimu, maka seberapapun besar aku mencintaimu itu tidak akan pernah cukup.” Aku mengakhiri perkataanku dengan tersenyum. Berharap gadisku ini akan mengerti dan menjaga kesehatannya mulai dari sekarang.


Setelah perbincangan kami hari itu, akhirnya Rere mau mengerti juga dengan penjelasanku. Sedikit-sedikit dia mulai berubah dan memulihkan kesehatannya. Aku selalu berusaha mendukung dan menyemangatinya.